Jangan berpikir bila buku ini memuat geng motor, mafia, atau bad boy di lingkungan SMA. Buku ini lebih dari itu. Banyak hal menarik dalam 234 halaman. Bahkan bila tidak melihat Ucapan Terima Kasih penulis—kalian tidak akan menyangka bila penulisnya dari Indonesia. Pembaca seolah melihat dan mendengar negara Jepang dalam rangkaian kata yang disusun oleh penulis bernama pena Zachira. Semuanya disusun rapi dan membius hati. Judul buku : Dearest Karya : Zachira Tahun terbit : 2015 Penerbit : Grasindo BLURB Dear Yui, Kau ingat aku? Mungkin tidak, tapi aku mengenalmu. Meski tak pernah bicara padamu. Aku mengagumi sosokmu, tapi tak terlintas menjadikanmu milikku. Karena sahabatku pun memilihmu. Dan memaksa kami berjanji atas nama persahabatan, tak akan mendekatimu. Cinta yang kami miliki membuat kami harus puas memandangimu dari jauh. Dari sudut di dalam sebuah gerbong kereta. My dearest Yui, Hidup tidak akan selalu mendukungmu. Keinginanmu tidak akan selalu terpenuhi. Dan du...
Library Lore: Review Buku 'Pulang' karya Leila S. Chudori (Kekelaman Masa Orde Baru dan Efeknya pada Beberapa Pihak Tak Bersalah)
Sepertiku, apa pernah sebersit kalian bertanya-tanya—atau setidaknya penasaran dengan masa Orde Baru? Atau mungkin detail prosesnya masa Reformasi ditetapkan di Indonesia? Ternyata para mahasiswa mengambil peran penting dalam peristiwa itu.
Beruntungnya aku, kerap mengonsumsi mahakarya-mahakarya yang memang patut untuk diapresiasi dan diberi penilaian terbaik. Kadang kenyataan itu membuatku bingung, gimana harus menyampaikan ke kalian saat aku rasa memang mereka sama menakjubkannya. Sukar untuk memilih buku terfavorit. Namun setidaknya sampai saat ini, berhubung baru menyelesaikan novel ini, aku yakin novel 'Pulang' adalah novel Indonesia terbaik yang dunianya pernah aku jelajahi.
Buku ini membahas banyak hal, banyak sudut pandang, banyak latar tempat serta waktu, dan juga banyak emosi. Dimas Suryo dan Lintang Utara adalah main characternya. Karenanya banyaknya tokoh yang ada, mungkin tulisan ini terlihat rumit dan membosankan, tapi percayalah, 'Pulang' sanggup meninggalkan 'sesuatu' yang tak bisa kalian dapat di buku mana saja.
Judul buku : Pulang
Karya : Leila S. Chudori
Tahun terbit : 2013
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
BLURB
“Paris, Mei 1968
Ketika gerakan mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia, bertemu Vivienne Deveraux, mahasiswa yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya, ditangkap tentara dan dinyatakan tewas.
Di tengah kesibujan mengelola Restoran Tanah Air, Dimas bersama tiga kawannya–terus-menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia dikejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan peristiwa 30 September. Apalagi dia tak bisa melupakan Surti Anandari–isteri Hananto yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diintrogasi tentara.
Jakarta, Mei 1998
Lintang Utara, puteri Dimas dari perkawinannya dengab Vivienne Deveraux, akhirnya berhasil meraih visa masuk Indonesia untuk merekam pengalaman keluarga korban 30 September sebagai tugas akhir kuliahnya. Apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekadar masa lalu ayahnya dengan Surti Anandari, tetapi juga bagaimana sejarah paling berdarah dinegerinya mempunyai kaitan dengan ayah dan kawan-kawan ayahnya. Bersama Segara Alam, putra Hananto, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: Kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.”
SYNOPSIS
Dimas adalah pria dewasa, wartawan di kantor berita Berita Nusantara. Ia mempunyai beberapa kawan, diantaranya Nugroho, Risjaf, Prawiro, Tjai, juga Hananto yang bekerja di tenpat yang sama. Meski aslinya Dimas netral, mereka semua tetap jadi buronan lantaran dituduh punya hubungan dengan PKI; padahal di masa itu pemerintah tengah 'membersihkan' siapa pun yang pernah bertemu, membantu, apalagi anggota dari komunitas itu.
Sebelum situasi menggila, Hananto memerintah Dimas untuk mengambil alih tugasnya. Dimas pergi ke Santiago sementara Hananto memperbaiki hubungan dengan istrinya. Kendati Dimas terjebak di Paris bersama sisa tiga temannya (Nugroho, Tjai, Risjaf), mereka selamat dari ancaman pemerintah. Demi keamanan mereka tetap terus berpindah-pindah ke negara Eropa, dan berakhir menetap di Paris pada tahun 1968. Di sana juga Dimas—yang masih melajang—bertemu dengan Vivianne, mahasiswi yang ikut serta demo revolusi mahasiswa kala itu di Paris. Mereka jatuh cinta dan akhirnya memutuskan untuk menikah.
MASA SULIT DI TAHUN 1965 - SETERUSNYA
Meski memilih untuk menikahi Vivianne, rupanya Dimas masih punya rasa untuk Surti—mantan kekasih sekaligus istri sahabatnya (Hananto) yang masih jadi buronan politik. Mereka—Dimas dan Surti—beberapa kali tukar kabar dengan surat, membicarakan banyak hal termasuk detail penyanderaan Surti dan anak-anaknya yang dianggap tapol. Wanita kuat itu terus diinterogasi mereka yang menanyakan di mana keberadaan Hananto—lelaki yang diketahui supel kepada siapa saja, bahkan pada kelompok komunis itu. Hananto mungkin dicurigai terlibat sesuatu dengan PKI.
Konflik bukan hanya berpusat pada kehidupan Dimas. Dari hilang-tertangkapnya Hananto, Dimas dkk yang izinnya ditolak untuk pulang ke Indonesia—karena semacam di blacklist, pernikahan Dimas-Vivianne yang tak lagi hangat. Buku ini masih berlanjut sampai Dimas membangun restoran di Paris bersama kawan-kawannya. Bahkan kisahnya terus bersambung ke generasi berikutnya. Tahun 1998, di mana Lintang Selatan—anak dari Dimas-Vivianne sudah beranjak dewasa.
GADIS CERDAS NUN MENYEBALKAN DAN KISAH KOMPLEKSNYA
Seperti halnya Dimas, Lintang sangat pintar. Dia tumbuh jadi gadis cantik karena darah Prancis dan Indonesia mengalir di tubuhnya. Konflik dari kehidupannya berputar pada tugas akhir dari dosennya, yang mengharuskan dia membuat film dokumenter mengenai kejadian 1965 silam.
Jelas Lintang exited akan tugas itu, tapi entah kenapa terbesit ide gila darinya untuk menyelesaikan tugas itu dengan terjun langsung ke Indonesia—tanah air yang bahkan tak pernah dikunjunginya. Tanah air yang selalu ingin disentuh dan dikenal langsung olehnya. Dengan pendapat juga bantuan Narayana (pacarnya), Dimas yang sakit-sakitan, Vivianne sebagai mamannya, juga Om-Omnya (Nug, Risjaf, Tjai)—perempuan cantik itu 'pulang' ke Indonesia.
KONFLIK YANG SERU DIMULAI
Ia bertemu dengan Alam (anak bungsu Hananto) juga aktivis-aktivis lain di Jakarta. Mereka, terutama Alam, membantunya membuat film dokumenter itu dalam waktu ±sebulan. Lantaran Alam, Lintang turut merasakan dan melihat langsung unjuk rasa para mahasiswa yang intinya mengkudeta presiden kedua Indonesia. Mereka tak setuju dengan cara presiden memerintah dsb.
Laki-laki tampan itu ikut ambil andil untuk memperkeruh pikiran Lintang. Membuatnya bimbang untuk memilih Alam atau Narayana setelah semua yang terjadi, setelah ia sendiri jatuh pada pesona Alam. Belum lagi para intel yang memata-matai proses wawancara Lintang—yang topiknya masih sensitif dan sangat berisiko. Begitu juga konflik-konflik lain yang berhubungan dengan Lintang.
Cerita dikemas dengan sebaik mungkin sampai akhirnya, sebagai penutup cerita, Lintang berhasil menemukan jati dirinya. Menemukan jawaban di mana 'rumah' ia sebenarnya.
MY OPINION
Jujur, buku satu ini cukup berat untuk dibaca. Harus mengumpulkan niat untuk itu, dan sekalinya membaca—kalian akan jatuh cinta. Kalian tak sanggup menahan hasrat untuk berhenti menguak isi novelnya. Tak heran Leila menghabiskan 6 tahun untuk menulis buku berbobot ini.
Semua tokoh benar-benar terasa hidup. Keras kepalanya Dimas, tegar dan sabarnya Vivianne, brengseknya Hananto (yang bahkan hanya muncul dalam beberapa halaman), Alam yang mempesona dan menggoda, Kepandaian dan cerdasnya Lintang bahkan ketika ia bicara—dst. Novel satu ini memang luar biasa. Penulis sukses memaparkan semuanya dengan cara yang berkelas.
Aku tak punya kata-kata lagi. Aku tak sanggup menjelaskan betapa buku ini amat-sangat berkesan. Walau di lain sisi membuat segan karena ketebalannya yang tak perlu diragukan. Kalian bisa menimpuk teman kalian yang belum juga membayar hutang dengan buku ini. Dijamin khasiatnya.
KELEBIHAN BUKU
Aku suka cover dari buku ini, walau kalau bisa memilih—aku akan memilih versi sebelumnya yang terasa lebih ori.
Ilustrasi dari setiap bab juga sangat menginspirasi, gambaran-gambaran itu seolah berbicara. Menjelaskan isi dari bab itu hanya dengan goresan tinta. Abstrak dan penuh jiwa.
Untuk bahasa? Jangan ditanyakan. Lebih-lebih bagaimana Leila memberi istilah/perumpamaan di setiap bagiannya—hebatnya gaya bahasanya mendapat penghargaan dan pengakuan. Menakjubkannya, buku ini diterjemahkan di berbagai bahasa, khususnya negara-negara Eropa.
HEBATNYA LAGI, kita generasi bangsa baru mengetahui mahakarya garapan Leila ini—didahului oleh orang-orang di luar negeri. Aku berani bertaruh dari ratusan anak, hanya segelintir yang baru mengetahui apalagi membaca buku ini. BAGAIMANA BISA BUKU SEEPIK INI TIDAK (LAGI) DIBICARAKAN DI BANYAK FORUM? Justru buku-buku sarat akan imajinasi konyol yang terus dibicarakan banyak insan.
KEKURANGAN BUKU
Menurutku pribadi, meski semua bagian terasa menyenangkan, ada banyak bagian yang tidak perlu dicantumkan. Tidak perlu dijelaskan sedemikian panjangnya. Karena novel ini jadi bercabang ke mana-mana, pembaca jadi sukar menyimpulkan apa yang hendak penulis tuju. Apa yang akan diakhiri penulis, apa yang jadi tujuan para tokohnya. Walau mungkin sudah jelas secara tersirat, aku tidak suka bagaimana penulis mengakhiri cerita. Bisa-bisanya di halaman sebanyak itu, cerita masih menggantung dan menimbulkan beberapa pertanyaan.
Istilah-istilah asing yang mengharuskanku bolak-balik KBBI atau google? Yeah, of course! Plenty of them. Entah aku harus senang atau kesal ketika bisa menambah wawasan dari istilah-istilah tadi. Tapi kurasa kata-kata yang tidak bisa teridentifikasi itu terlalu banyak dan mengganggu prosesku mencintai buku ini. Namun yaa, wajar saja karena ini buku lama dan bahasanya masih sangat sastra. Tentu, buku ini masih yang terbaik bagiku.
INSPIRASI YANG BISA DIDAPAT
Tidak ada kenyataan/bagian terlalu kuat yang membuatku terinspirasi atau mengubah pola pikirku. Mungkin hanya cara bertahan hidup di tengah kegentingan takdir dan masalah yang hadir. Namun yang pasti, aku terinspirasi pada penulis dan gaya tulisan yang dibuatnya. Mungkin tanpa sadar tulisanku berkembang karena buku satu ini. Aku juga belajar bagaimana membuat kiasan yang kuat, juga memilih kata yang tajam agar pembaca bisa paham maksud dari penulis tanpa membaca berulang-ulang.
MY FAVORITE QUOTES
“Mengapa benda mati disebut sesuatu yang mati? Terkadang mereka lebih 'hidup' dan lebih jujur memberikan saksi.”
—Lintang Utara
Jika kalian siap untuk mendatangi dunia penuh keresahan, kegelisahan, kekelaman yang elusif—maka jangan ragu untuk membaca buku penuh sejarah satu ini. Selamat membaca!
Comments
Post a Comment